Search This Blog

University

Wednesday, July 1, 2015

Budaya Batak Toba

Pernikahan
Pada suku Batak Toba perkawinan adalah merupakan suatu peristiwa besar, mengundang hulahula, boru, dongan tubu serta dongan sahuta sebagai saksi pelaksanan adat yang berlaku. Dalam adat Batak Toba perkawinan haruslah diresmikan secara adat berdasarkan adat dalihan na tolu, yakni Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Perkawinan pada masyarakat Batak Toba sangat kuat sehingga tidak mudah untuk bercerai karena dalam perkawinan tersebut banyak orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab di dalamnya. Adapun tata cara perkawinan secara normal berdasarkan ketentuan adat terdahulu ialah perkawinan yang mengikuti tahap-tahap berikut:
1.      Mangaririt
Mangaririt adalah ajuk-mengajuk hati atau memilih gadis yang akan dijadikan menjadi calon istrinya sesuai dengan kriterianya sendiri dan kriteria keluarga. Acara mangaririt ini dilakukan kalau calon pengantin laki-lakinya adalah anak rantau yang tidak sempat mencari pasangan hidupnya sendiri, sehingga sewaktu laki-laki tersebut pulang kampung, maka orang tua dan keluarga lainya mencarai perempuan yang cocok denganya untuk dijadikan istri, tetapi perempuan yang dicarikan tersebut harus sesuai dengan kriteria silaki-laki dan kriteria keluarganya.

2.      Mangalehon Tanda
Mangalehon tanda artinya memberikan tanda yang apabila laki-laki sudah menemukan perempuan sebagai calon istrinya, maka keduanya kemudian saling memberikan tanda. Laki-laki biasanya memberikan uang kepada perempuan sedangkan perempuan menyerahkan kain sarung kepada laki-laki, setelah itu maka laki-laki dan perempuan itu sudah terlibat satu sama lain. Laki-laki kemudian memberitahukan hal itu kepada orang tuanya, orang tua laki-laki akan menyuruh prantara atau domu-domu yang sudah mengikat janji dengan putrinya.

3.      Marhusip
Marhusip artinya berbisik, namun pengertian dalam tulisan ini adalah pembicaran yang bersifat tertutup atau dapat juga disebut perundingan atau pembicaraan antara utusan keluarga calon pengantin laki-laki dengan wakil pihak orang tua calon pengantin perempuan, mengenai jumlah mas kawin yang harus di sediakan oleh pihak laki-laki yang akan diserahkan kepada pihak perempuan. Hasil-hasil pembicaraan marhusip belum perlu diketahui oleh umum karena menjaga adanya kemungkinan kegagalan dalam mencapai kata sepakat. Marhusip biasanya diselenggarakan di rumah perempuan. Domu-domu calon pengantin laki-laki akan menerangkan maksud kedatangan mereka pada kaum kerabat calon pengantin perempuan.

4.      Martumpol
Martumpol bagi orang Batak Toba dapat disebut juga sebagai acara pertunangan namun secara harafiah martupol adalah acara kedua pengantin di hadapan pengurus jemaat gereja diikat dalam janji untuk melangsunkan perkawinan. Martupol ini dihadiri oleh orang tua kedua calon pengantin dan kaum kerabat mereka beserta para undangan yang biasanya diadakan di dalam gereja, karena yang mengadakan acara martumpol ini kebanyakan adalah masyarakat Batak Toba yang Beragama Kristen.


5.      Marhata Sinamot
Marhata sinamot biasanya diadakan selesai membagikan jambar. Marhata sinamot yaitu membicarakan berapa jumlah sinamot dari pihak laki-laki, hewan apa yang di semblih, berapa banyak ulos, berapa banyak undangan dan dimana dilakukan upacara perkawinan tersebut. Acara marhata sinamot dapat juga dianggap sebagai perkenalan resmi antara orang tua laki-laki dengan orang tua perempuan. Mas kawin yang diberikan pihak laki-laki biasanya berupa uang yang jumlah mas kawin tersebut di tentukan lewat terjadinya tawar-menawar.

Menjelang Kelahiran
1.      Mamaholi
Mamoholi disebut manomu-nomu yang maksudnya adalah menyambut kedatangan (kelahiran) bayi yang dinanti-nantikan itu. Disamping itu juga dikenal istilah lain untuk tradisi ini sebagai mamboan aek ni unte yang secara khusus digunakan bagi kunjungan dari keluarga hula-hula/tulang.
Pada hakikatnya tradisi mamoholi adalah sebuah bentuk nyata dari kehidupan masyarakat Batak tradisional di bona pasogit yang saling bertolong-tolongan (masiurupan). Seorang ibu yang baru melahirkan di kampung halaman, mungkin memerlukan istirahat paling tidak 10 hari sebelum dia mampu mempersiapkan makanannya sendiri. Dia masih harus berbaring di dekat tungku dapur untuk menghangatkan badanya dan disegi lain dia perlu makanan yang cukup bergizi untuk menjamin kelancaran air susu (ASI) bagi bayinya.
Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, maka saudara-saudara sekampung akan secara bergantian dari hari ke hari berikutnya mempersiapkan makanan bagi si ibu berupa nasi, lauk daging ayam atau ikan (na tinombur), jenis sayuran yang dipercaya membantu menambah produksi ASI (seperti bangun-bangun) dan lain-lain. Selain makanan siap saji, ada juga keluarga-keluarga yang membawa bahan makanan dalam bentuk mentah seperti beras, ayam hidup, ikan hidup dan yang lebih mentah lagi dalam bentuk uang. Sehingga paling sedikit untuk dua atau tiga bulan berikutnya si ibu yang baru melahirkan itu tidak perlu khawatir akan makanan yang ia butuhkan untuk merawat bayinya sebaik-baiknya sampai ia kuat untuk melakukan tugas-tugas kesehariannya.
Kunjungan pihak hulahula/tulang untuk menyatakan sukacita dan rasa syukur mereka atas kelahiran cucu itu adalah sesuatu yang khusus. Mungkin mereka akan datang beberapa hari setelah kelahiran bayi itu dalam rombongan lima atau enam keluarga yang masing-masing mempersiapkan makanan bawaannya, sehingga dapat dibayangkan berapa banyak makanan yang tersedia sekaligus.
Untuk menyambut dan menghormati kunjungan hulahula itu maka tuan rumah pun mengundang seluruh keluarga sekampungnya untuk bersama-sama menikmati makanan yang dibawa oleh rombongan hulahula itu. Setelah makan bersama, anggota rombongan hulahula akan menyampaikan kata-kata doa restu semoga si bayi yang baru lahir itu sehat-sehat, cepat besar dan dikemudian hari juga diikuti oleh adik-adik laki-laki maupun  perempuan.

2.      Upacara adat mangirdak atau mangganje atau mambosuri boru (adat tujuh bulanan)
Upacara adat mangirdak adalah upacara yang diterima oleh seorang ibu yang usia
kandungannya tujuh bulan.
3.      Upacara adat mangharoan
Upacara adat mangharoan adalah upacara adat yang dilaksanakan setelah dua minggu
kelahiran bayi untuk menyambut kedatangan bayi tersebut dalam keluarga tersebut.

4.      Upacara adat martutu aek
Upacara adat martutu aek adalah upacara adat pemberian nama kepada bayi. Namun, pada saat ini, upacara ini sudah tidak dilakukan lagi karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama.

Kelahiran
1.      Mangirdak
Dalam suku batak apabila seorang putra batak menikah dengan dengan seorang perempuan baik dari suku yang sama maupun yang beda, ada beberapa aturan atau kebiasaan yang harus dilaksanakan. Sebagai contoh, seorang putra batak yang bermarga Pardede menikah maka sudah merupakan kebiasaan jika orangtua dari istri disertai rombongan dari kaum kerabat datang menjenguk putrinya dengan membawa makanan ala kadarnya ketika menjelang kelahiran, hal kunjungan ini disebut dengan istilah Mangirdak (membangkitkan semangat). Makna spiritualitas yang terkandung adalah kewibawaan dari seorang anak laki-laki dan menunjukkan perhatian dari orangtua si perempuan dalam memberikan semangat.

2.      Pemberian Ulos Tondi 
Ada juga kerabat yang datang itu dengan melilitkan selembar ulos yang dinamakan ulos tondi (ulos yang menguatkan jiwa ke tubuh si putri dan suaminya). Pemberian ulos ini dilakukan setelah acara makan. Makna spiritualitas yang terkandung adalah adanya keyakinan bahwa pemberian ulos ini dapat memberikan ataupun menguatkan jiwa kepada suami istri yang baru saja mempunyai kebahagiaan dengan adanya kelahiran.

3.     Mengharoani
Sesudah lahir anak-anak yang dinanti-nantikan itu, ada kalanya diadakan lagi makan bersama ala kadarnya di rumah keluarga yang berbahagia itu yang dikenal dengan istilah mengharoani (menyambut tibanya sang anak). Ada juga yang menyebutnya dengan istilah mamboan aek si unte karena pihak hula-hula membawa makanan yang akan memperlancar air susu sang ibu. Makna spiritualitas yang terkandung adalah yaitu menunjukkan kedekatan dari hula-hula terhadap si anak yang baru lahir dan juga terhadap si ibu maupun ayah dari si anak itu.

Kematian
Kematian dan adat tradisinya dalam budaya Batak memiliki perlakuan atau upacara serta adat yang berbeda-beda. Setiap orang yang mati dengan umur dan status dari orang yang mati tersebut, akan saling berbeda satu sama lain prosesinya. Media Budaya mencoba menggali informasi sebagai referensi lebih jauh sebagai pengaya terhadap budaya Batak, kali ini mengenai jenis-jenis mati dan prosesinya dalam tradisi Batak.

Kehidupan terdiri dari dua kutub pertentangan, antara “hidup” dan “mati”, yang menjadi paham dasar manusia sejak masa purba sebagai bentuk dualisme keberadaan hidup hingga masa kini. Kematian merupakan akhir dari perjalanan hidup manusia. Maka kematian pada dasarnya adalah hal yang biasa, yang semestinya tidak perlu ditakuti, karena cepat atau lambat akan menjemput kehidupan dari masing-masing manusia.

Dalam tradisi Batak, orang yang mati akan mengalami perlakuan khusus, terangkum dalam sebuah upacara adat kematian. Upacara adat kematian tersebut diklasifikasi berdasar usia dan status si mati.  Beberapa nama atau istilah mati dalam tradisi Batak berikut prosesinya antara lain yaitu :

1.      Mate Di Bortian
Mate Di Bortian berarti meninggal pada saat masih dalam kandungan. Tradisi atau prosesi adat kematian belum berlaku karena langsung dikubur tanpa peti mati.

2.      Mate Poso-poso
Mate poso-poso berarti meninggal saat masih bayi. Tradisi atau prosesi adat kematian yaitu jenazah ditutupi selembar ulos (kain tenunan khas Batak) yang diberikan oleh orang tuanya. 

3.      Mate Dakdanak
Mate dakdanak berarti meninggal saat masih kanak-kanak. Tradisi atau prosesi adat kematian yaitu jenazah ditutupi oleh ulos (kain tenunan khas Batak) yang dilakukan oleh tulang (paman/saudara laki-laki dari ibu).

4.      Mate Bulung
Mate bulung berarti meninggal pada saat remaja atau menjelang dewasa. Tradisi atau prosesi adat kematian sama dengan mate dakdanak, yaitu jenazah ditutupi ulos dari tulang.

5.      Mate Ponggol
Mate ponggol berarti meninggal pada saat berusia dewasa namun belum menikah. Tradisi atau prosesi adat kematian sama dengan mate dakdanak dan mate bulung, yaitu jenazah ditutupi ulos oleh tulang.

Tingkatan prosesi kematian di atas adalah bagi jenazah yang belum berumah tangga. Berikut ini adalah tingkatan tradisi prosesi kematian bagi yang telah berumah tangga atau telah memiliki keturunan : 
1.      Mate Di Paralang-alangan atau Mate Punu
2.      Mate Di Paralang-alangan atau Mate Punu
berarti meninggal pada saat sudah berumah tangga (sudah menikah) namun belum memiliki keturunan.
3.      Mate Mangkar
Mate mangkar berarti meninggal pada saat sudah menikah (berumah tangga) dan meninggalkan beberapa orang anak yang masih kecil-kecil.
4.      Mate Hatungganeon
5.      Mate Hatungganeon
berarti meninggal dan sudah memiliki anak-anak, beberapa di antara anaknya sudah ada yang menikah namun belum memiliki cucu.


Budaya khas
1.      Ritual Hahomion Horja Bius
Huta atau kampung di daerah komunitas orang Batak Toba adalah persekutuan masyarakat yang paling kecil yang dibentuk oleh marga. Mulanya mereka tinggal di kampung induk tetapi karena penduduknya terus berkembang menyebabkan terbentuk huta-huta yang baru. Untuk mengatur kepentingan bersama beberapa kampung atau huta membentuk federasi atau persekutuan yang sifatnya masih terikat satu dengan lainnya. Kumpulan huta disebut Horja.
Perserikatan horja ini lebih banyak mengurus hal yang berhubungan dengan duniawi. Dalam pagelaran pesta Horja Bius diadakan yang namanya Hahomion.Dalam pagelaran pesta Horja Bius diadakan yang namanya Hahomion. Ritual Hahomion adalah upacara yang dilakukan oleh nenek moyang kita terdahulu yang ditujukan untuk pemujaan kepada roh leluhur dan kekuatan gaib. Maksud diadakannya Ritual Hahomion untuk memberikan sesajen/persembahan kepada kekuatan gaib dan roh leluhur. Nenek moyang kita dahulu percaya bahwa roh leluhur masih memiliki peran dalam kehidupan keturunannya. Mereka juga percaya bahwa roh nenek moyang senantiasa memantau kehidupan sosial kemasyarakatan. Persembahan ini dimaksudkan sebagai bukti nyata dari warga untuk pengakuan akan adanya kekuatan gaib yang mengiringi kehidupan.
Tujuan ritual Hahomion untuk memohon agar roh dan kekuatan kekuatan gaib tetap memantau kehidupan warga dan memohon kepada Mulajadi Na Bolon agar senantiasa memelihara, mendatangkan kemakmuran, dan ketentraman hidup warga.

2.      Ritual Mandi Pangir
Mereka membersihkan tubuh dengan ramuan-ramuan khusus, membasuh rambut (keramas) sampai halus. Di beberapa tempat yang beruntung punya sungai bagus, dengan ramuan itu mereka bermaksud “menghanyutkan dosa-dosa” ke arah hilir, dan kini mereka telah siap untuk memasuki satu bulan suci dalam Islam, yaitu Ramadhan. Setiap menjelang bulan Ramadhan yang berarti kegiatan puasa akan tiba, kelompok-kelompok masyarakat yang beragama Islam di Sumatera melakukan tradisi persiapan lahir dan batin. Biasanya, dalam tradisi ini, terdapat beberapa ritual yang dilaksanakan secara berbeda—meskipun ada kaitannya--oleh etnis-etnis yang hidup di pulau ini.
Ritual tersebut antara lain, ziarah ke makam, mandi keramas, dan punggahan (naik ke bulan yang suci dengan kegiatan kenduri). Dari tiga tradisi tersebut, saya akan mengungkapkan latar budaya mandi keramas, khususnya yang berlangsung pada orang Jawa di Sumatera Utara, yang berbeda dengan tradisi asli di Jawa. Perbedaan ini memperlihatkan sifat adaptif budaya Jawa terhadap tradisi setempat tanpa menghilangkan ciri khas mereka sebagai orang Jawa yang sudah berdomisili di Sumatera sejak akhir abad 19.
Pada beberapa kelompok etnik di Sumatera Utara, terdapat istilah-istilah yang berbeda untuk menyebut ritual mandi keramas ini. Pada etnik Melayu Deli dan Mandailing, ritual mandi ini disebut dengan istilah ”marpangir” (selanjutnya kita akan mengunakan istilah ini). Pada kelompok etnik Minang dan Aceh Singkil, kegiatan yang sama disebut dengan istilah ”balimau”, dan etnik Melayu di Riau menyebutnya dengan ”balimau kasai”. Istilah penyebutan ini memiliki substansi yang sama, yaitu suatu ritual pembersihan diri dan biasanya dilakukan sehari menjelang puasa.
Uniknya, pada etnis Karo yang bukan Islam, kegiatan marpangir (mandi keramas) juga ditemukan. Mereka menyebutnya dengan ”erpangir ku lau”, yang juga bermakna pembersihan diri. Berbeda dari kelompok etnik Melayu, Mandailing dan Minang, erpangir bagi etnik Karo merupakan tradisi yang tidak ada hubungannya dengan penyambutan Ramadhan. Jika marpangir pada etnis Jawa, Melayu dan Mandailing merupakan ritual yang dilakukan secara individual, tetapi pada etnis Karo ritual ini dilakukan secara kolektif dan ada pemimpin ritualnya. Bagi etnis Karo, selain bertujuan membersihkan diri, mereka juga dapat melaksanakan ritual ini dalam rangka pengobatan atau penyembuhan penyakit, minta rezeki, penghormatan terhadap leluhur, dan bahkan untuk memanjatkan rasa syukur terhadap Tuhan yang Maha Esa.
Etnik Jawa di Sumatera Utara pun tidak menggunakan istilah khusus untuk menyebut istilah marpangir, dan mereka mengikuti penggunaan istilah yang digunakan oleh host population (etnik setempat) seperti Mandailing, Melayu dan Karo. Padahal di Jawa, daerah asal mereka, sesungguhnya terdapat istilah khusus untuk kegiatan ini, yaitu ”padusan”, yang berasal dari kata dasar ”adus” yang berarti “mandi”. Tetapi orang Jawa di Sumatera Utara tidak mempergunakan istilah padusan lagi.
Kata dasar ”marpangir” dan ”erpangir” adalah “pangir”, yaitu kata benda dari ramuan yang digunakan untuk mandi keramas. Ramuan pangir itu memiliki variasi antar satu tempat dengan tempat lain, dengan unsur-unsur seperti akar rusa, serai wangi, bunga pinang, daun pandan, daun nilam, buah dan daun jeruk purut serta batang kapellon yang mengandung unsur wewangian. Dengan demikian, balimau, balimau kasai, dan marpangir memiliki makna dan tujuan yang sama, yaitu mandi menjelang masuknya bulan Ramadhan serta ingin memperoleh keberkahan dari Tuhan yang Maha Esa.
Ritual yang berkaitan dengan penyambutan Ramadhan ini dijalankan secara lengkap oleh kelompok orang Jawa di Sumatera Utara. Selain marpangir, orang Jawa menjalankan ritual ziarah dan punggahan, yaitu upacara yang dijalankan secara kolektif dalam rangka mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Ritual ziarah ke makam keluarga yang telah meninggal, marpangir dan punggahan merupakan upacara ritual yang biasanya dijalankan secara berurutan.
Dalam tradisi Jawa, ketiga aktivitas tersebut menjadi satu paket yang sudah menjadi tradisi turun temurun dalam rangka slametan (selamatan) yang berkaitan dengan tanggal-tanggal penting dalam kalender Islam. Masih ada jenis slametan lain di luar penyambutan Ramadhan. Sebagaimana dikatakan Geertz dalam bukunya ”Abangan, Santri, Priayi dalam Masyarakat Jawa” (1981), slametan yang dijalankan oleh orang Jawa terbagi dalam empat jenis, yaitu untuk menghormati sekitar krisis kehidupan (kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian), merayakan sesuatu yang ada hubungannya dengan hari-hari Islam, integrasi sosial desa, dan slametan yang diselenggarakan dalam waktu tidak tetap.
Ziarah, marpangir dan punggahan dijalankan berdasarkan kepercayaan orang Jawa yang meyakini adanya integrasi masyarakat dengan alam adikodrati yang diwujudkan dalam bentuk penghormatan terhadap nenek moyang atau leluhur. Meskipun demikian, Islam tetap menjadi kekuatan dominan dalam setiap kegiatan ritual dan kepercayaan orang Jawa di Sumatera Utara. Dalam literatur antropologi, hal itu disebut Woodward (2006:10) sebagai Islam Jawa (dikategorikan sebagai abangan dan priyayi). Prinsip yang menjadi landasan bagi orang Jawa adalah untuk menciptakan keadaaan slamet, dengan menciptakan sesuatu yang selaras dengan alam. Untuk itu, selain berserah diri pada Tuhan yang Maha Esa secara Islam, juga diperlukan tindakan-tindakan khusus untuk mengintegrasikan manusia dengan alam adikodrati yang dalam hal ini adalah penghormatan terhadap nenek moyang. Marpangir, ziarah dan punggahan sesungguhnya tidak ditemukan dalam ajaran Islam.
Dalam antropologi (Koentjaraningrat, 1985:243), upacara-upacara ritual, baik secara kolektif maupun individual, pelaksanaannya harus memenuhi komponen tempat upacara, saat upacara, alat-alat upacara, dan orang-orang yang melakukan upacara. Benda dan alat-alat yang digunakan untuk melakukan marpangir tidak hanya dipilih karena menimbulkan aroma wewangian yang khas sehingga berdampak memberikan kesegaran bagi yang menggunakannya, tapi juga diyakini mengandung kekuatan penyucian diri. Ramuan-ramuan “pangir” dipadu dengan cara direbus bersama, kemudian diguyurkan dari ujung kepala hingga ke seluruh tubuh. Unsur-unsur seperti serai wangi, bunga pinang, daun pandan, daun nilam, buah dan daun jeruk purut, serta batang kapellon dianggap dapat menginterpretasikan keharuman untuk doa yang dipanjatkan.
Jeruk purut dipercaya sebagai benda yang ampuh untuk membersihkan atau menjauhkan dari dari gangguan makhluk-makhluk jahat. Jenis akar rusa melambangkan keteguhan hati, pertahanan, dan kekuatan, seperti akar yang mengikat pohonnya. Jadi, setiap bahan pangir adalah simbol dari harapan atau doa. Dari pendekatan logika, bahan-bahan khusus tersebut memang memancarkan keharuman yang dapat menenteramkan, menyejukkan, dan memulikan jiwa.
Berkaitan dengan kegiatan puasa pada bulan Ramadhan, setiap jenis benda yang digunakan dalam kegiatan marpangir dianggap mempunyai kekuatan yang ampuh dan berfungsi untuk menyelamatkan penggunanya dari gangguan-gangguan hawa nafsu selama menjalankan ibadah puasa. Gangguan-gangguan tersebut dipercaya selalu muncul dari makhluk-makhluk jahat yang tidak kelihatan, dan makhluk-makhluk ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan dalam hidup mereka. Hal ini mencerminkan nilai-nilai yang merepresentasikan suatu pengharapan keberkahan dan keselamatan bagi yang menggunakannya, serta terhindar dari marabahaya. Agar kegatan ini berjalan sukses, maka unsur pangir harus lengkap.

Secara harfiah, marpangir merupakan tradisi mandi dan keramas (mencuci rambut) yang mempunyai makna pembersihan diri secara fisik dan batiniah, yang meskipun dilaksanakan berkaitan dengan momen keislaman, namun tidak ditemukan dalam ajaran para nabi. Ritual-ritual ini dianggap sebagai sisa-sisa dari kepercayaan Hindu, tepatnya tradisi yang dilaksanakan untuk menyucikan diri di Sungai Gangga, India. Akan tetapi dalam kepercayaan orang Jawa di Sumatera Utara, serta etnis lain yang menjalankannya, tradisi ini tidak dirujuk lagi sebagai tradisi yang berasal dari agama Hindu. Ini merupakan tradisi Islam yang terdapat pada beberapa etnik lain, yang membuat mereka mendapatkan kepuasan batin dan kenyamanan saat akan memasuki serta menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Sebuah tradisi yang tidak akan mudah dihilangkan.

Thursday, April 30, 2015

Budaya Tionghoa

Sebenarnya saya sudah lama membuat artikel ini untuk tugas sma, namun pada saat kuliah ada lagi. ya sudah saya akan bahas sedikit dari artikel yang saya buat tentang perbandingan budaya antara budaya Tionghoa dengan Batak Toba. Dan pada post ini saya akan membicarakan sedikit tentang budaya pada masyarakat Tionghoa.

Pernikahan

• Cadar Merah pada pengantin wanita

Pada pesta pernikahan tradisional tionghoa, pengantin wanita terlihat memakai cadar berwarna merah untuk menutupi muka. Cadar itu biasanya terbuat dari sutra

Cadar merah pada pengantin wanita tradisi ini berasal dari masa dinasti utara dan selatan. Dimana pada masa itu para petani wanita mengenakan kain pelindung kepala untuk perlindungan dari terpaan angina atau panasnya matahari ketika sedang bekerja di lading. Kain itu bias berwarna apa saja, yang penting mampu menutupi bagian atas kepala. Kebiasaan ini lambat laun menjadi sebuah tradisi

Pada awal Dinasti Tang, kain tersebut menjadi sebuah cadar panjang hingga ke bahu, dan tidak lagi hanya dipakai oleh petani wanita.

Pada saat pemerintahan Kaisar Li Jilong dari Dinasti Tang, ia membuat keputusan bahwa semua pembantu wanita istana yang masih dalam masa penantian harus mengenakan cadar untuk menutupi muka. Tidak lama kebiasaan tersebut menjadi sebuah tradisi.

Lama kelamaan kebiasaan memakai cadar itu diterapkan pada pesta pernikahan. Pemakaian cadar pada pengantin wanita dengan tujuan agar kecantikan pengantin wanita tidak menjadi perhatian lelaki lain, dan pengantin pria ingin agar pengantin wanita terlihat anggun.

Pengantin wanita menerima cadar itu untuk menunjukkan kesetiaan pada pengantin pria.
Sejak masa Lima Dinasti, pemakaian cadar menjadi sebuah keharusan pada setiap pesta pernikahan. Warna cadar itu selalu merah yang mewakili kebahagiaan

• Persembahan pada Dewa

Terdapat kebiasaan memberikan persembahan pada dewa agar pernikahan berjalan lancar, terdapat 3 jenis makanan, babi untuk hewan darat, ikan untuk hewan laut, dan ayam untuk hewan udara. Bisa juga dengan buah buahan, seperti apel, pear, jeruk, anggur, dll.

• Tandu Pengantin 

Tandu merupakan salah satu kendaraan yang sering digunakan pada jaman dahulu oleh orang-orang Tionghoa yang kaya, sedangkan yang kurang mampu biasanya naik keledai atau berjalan kaki. Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri jika naik tandu dibandingkan keledai yang seringkali ribut. Pada perayaan-perayaan tertentu, seperti pesta pernikahan, tandu digunakan untuk menghantar pengantin wanita ke rumah pengantin pria, baik oleh orang kaya maupun orang miskin. Ada asal usul mengapa tandu digunakan pada pesta pernikahan. terdapat seorang kaisar bijaksana yang sering melakukan kunjungan ke berbagai daerah. Suatu saat sang kaisar dan para anak buahnya sedang berlalu di sebuah perbukitan, tiba-tiba pemandu memberi tahu bahwa iring-iringan akan terhalang oleh iring-iringan lain. Maka sang kaisar keluar dari tandu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Sebuah iring-iringan pernikahan penuh kegembiraan sedang berjalan dengan pengantin wanita mengendarai keledai. 

Melihat kejadian menggembirakan itu, sang kaisar turut bergembira. Pada saat kedua rombongan bertemu , rombongan pengantin wanita yang tidak mengetahui bahwa rombongan didepan adalah rombongan kaisar, tidak bersedia mengalah, demikian pula rombongan sang kaisar. Akhirnya sang kaisar menemukan sebuah ide, ia berkata kepada pengantin wanita, “Tidak hanya aku akan memberikan jalan kepadamu, aku juga akan meminjamkan tanduku jika kamu bisa membuat puisi saat ini juga.” Pengantin wanita lalu berpuisi, “Melihat rombonganmu, melihat rombonganku. Bukan masalah siapakah pemilik jalan ini. Melihat tandumu, melihat keledaiku. Tidak peduli manakah yang terbaik untuk pesta pernikahanku. Anda haruslah bermurah hati dengan meminjamkan tandu anda. Siapa dapat berkata bahwa saya adalah orang sederhana dan anda orang terhormat. Tidak ada perbedaan disini, hanya sekelompok orang yang ada.” Sang kaisar sangat terkesan dengan puisi itu, sehingga ia meminjamkan tandunya. Adanya hal itu membuat pesta pernikahan yang ada menjadi semakin menarik perhatian orang ramai. 

Sejak itu, setiap pesta pernikahan selalu menggunakan tandu, meskipun terkadang hanya sebuah tandu sederhana. Meskipun saat ini sudah sangat jarang pesta pernikahan yang menggunakan tandu, namun tandu tetap digunakan pada perayaan-perayaan tradisional.

Kelahiran Anak

- Man Yue

Tradisi yang dirayakan saat bayi berusia 1 bulan tersebut bertujuan memperkenalkan bayi kepada para saudara (bibi, paman dan sepupu) dan teman orang tuanya. Walaupun bayi itu seharusnya menjadi bintang selama perayaan, ia tidak akan mengingat apa-apa kecuali melalui foto-foto atau video yang direkam selama acara.

Media tionghoa.info menyebutkan,  banyak makanan dan minuman yang disiapkan untuk para tamu dalam perayaan itu. Satu di antaranya yang paling sering dijumpai adalah telur yang kulitnya diberi warna merah. Telur melambangkan suatu tahapan kehidupan yang baru, sedangkan warna merah melambangkan perayaan dan keberuntungan. Bentuk telur yang oval melambangkan harmoni dan kesatuan.

Selama perayaan, beberapa orangtua juga mencukur rambut si bayi. Sementara yang lain hanya memotong sebagian rambut sebagai simbol saja. Rambut itu kemudian dibungkus dengan kain merah dan dijahit pada bantal si bayi. Praktek ini dianggap dapat memastikan si bayi supaya berani dan tidak mudah takut. Yang paling berbahagia tentu adalah orangtua serta kakek-neneknya. Acara ini bukan saja untuk merayakan kedatangan anggota keluarga baru, namun juga membuat para anggota keluarga semakin akrab. Menurut budaya Tionghoa, bayi yang berumur satu bulan patut dirayakan dalam pesta telur merah. Secara tradisi, nama si bayi juga akan diberitahukan pada saat itu.

Tamu tamu yang menghadiri pesta telur merah itu akan membawakan berbagai kado. Angpao selalu diberikan kepada bayi laki-laki, sementara bayi perempuan akan mendapat berbagai perhiasan mahal. Para tamu undangan tidak meninggalkan pesta dengan tangan yang kosong, karena biasanya orangtua sang bayi akan memberikan “bingkisan” telur merah untuk menandakan kebahagiaan dan sebuah permulaan hidup yang baru dengan hadirnya sang bayi.
Pesta telur merah berasal dari budaya Tiongkok kuno. Sama seperti negara-negara lain, angka kematian bayi di Tiongkok zaman dulu cukup tinggi sebelum berkembangnya ilmu pengobatan modern pada abad ke 20. Oleh karenanya, seorang bayi yang telah berusia satu bulan kemungkinan besar dapat bertahan hidup sampai dewasa. Maka diadakanlah sebuah pesta untuk merayakan hal itu.

Secara tradisi, masa nifas (umur bayi satu bulan/ ibu istirahat satu bulan setelah melahirkan tanpa keluar rumah) juga merupakan saat yang tepat untuk mengenalkan kembali sang ibu kepada masyarakat luar. Orang Tionghoa percaya bahwa ibu-ibu berada dalam kondisi tubuh paling lemah sepanjang masa hidupnya sehabis melahirkan. Ibu-ibu orang Tionghoa melakukan istirahat selama sebulan penuh sehabis melahirkan tanpa keluar rumah. Ini untuk memastikan agar mereka tidak terlalu lelah atau tidak terjangkit berbagai kuman penyakit dari dunia luar yang membahayakan saat tubuh dalam kondisi paling lemah. Selain beristirahat, mereka minum sup daging hasil rebusan dari kaki babi, telur, cuka dan jahe. Kebanyakan ibu-ibu muda masa kini masih mengikuti cara tradisional ini.

Pada zaman dulu, sesuai dengan pentingnya anak laki-laki dalam tradisi Tionghoa, pesta telur merah kadang-kadang hanya dirayakan kepada bayi laki-laki saja, atau perayaan buat bayi laki-laki lebih megah dibanding bayi perempuan. Tetapi sekarang, pesta dirayakan untuk bayi laki-laki maupun perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, tempat merayakan pesta telur merah juga telah mengalami perubahan. Para orangtua mungkin akan memilih untuk merayakan pesta tersebut  di sebuah restoran yang mewah. Para orang tua juga dapat menggunakan telur dengan warna merah muda (tidak harus merah tua) dalam perayaan itu. Telur dengan jumlah angka genap untuk bayi laki-laki dan telur dengan jumlah angka ganjil untuk bayi perempuan. Tradisi ini juga masih terlihat pada keluarga Tionghoa di Indonesia. Saat bayi mereka berusia satu bulan, biasanya mereka akan mengirimkan paket telur merah dan kue kepada sanak saudara atau rekan-rekan yang memberi kado untuk sang bayi.

- Sepatu Harimau

Sepatu harimau biasa dipakai pada bayi di beberapa suku bangsa Tionghoa. Seluruh bagian dari sepatu terbuat dari kain dan ujungnya berbentuk kepala harimau. Ada cerita di balik kebiasaan itu.

Cerita dari mulut ke mulut mengatakan. Pada jaman dahulu, di kota Yangzhou hidup seorang nelayan bernama Big Yang. Big Yang merupakan orang yang baik hati dan siap menolong siapa saja. Karena kebaikan hatinya, Big Yang mendapatkan sebuah hadiah berupa lukisan dari seorang perempuan yang pernah ditolongnya. Pada lukisan tersebut, seorang wanita cantik sedang menyulam sepasang sepatu berkepala harimau. Big Yang sangat menyukai lukisan tersebut. Setibanya di rumah, Big Yang memasang lukisan itu di tembok.


Suatu sore, wanita dalam lukisan itu keluar dari lukisan dan menemui Big Yang. Sejak itu mereka bertemu setiap malam. Tahun demi tahun berlalu, dan akhirnya mereka mempunyai anak yang banyak menambah kebahagiaan.

Sayangnya, lukisan yang ada di rebut oleh seorang pejabat serakah yang mendengar cerita mengenai kecantikan wanita dalam lukisan tersebut. Big Yang sangat marah namun tidak dapat berbuat apa-apa. Sang pejabat serakah memasang lukisan tersebut di rumahnya dan menanti kedatangan sang wanita setiap malam. Namun penantian sang pejabat tidak membawa hasil.

Sementara itu, sang anak terus menangis karena ditinggal sang Ibu. Big Yang berusaha membuat sebuah cerita bohong bahwa sang Ibu pergi ke barat. Namun sang anak terus memaksa untuk bertemu sang Ibu.

Akhirnya sang anak melakukan pengembaraan untuk mencari sang Ibu. Dia berjalan ke arah barat siang dan malam, dan akhirnya dia menemukan sang Ibu pada sebuah kolam bersama-sama dengan peri-peri lain.

“Anakku, kamu telah mencariku sampai sejauh ini”, kata sang Ibu sambil menyeka air mata sang anak.

“Ibu, ayo kita pulang. Tahukah bahwa aku sangat merindukanmu”, kata sang anak.

“Kita tidak akan bisa pulang bersama sampai kamu bisa melihat langsung lukisan Ibu di rumah pejabat serakah itu dan kamu harus memakai sepatu harimau yang Ibu buat untukmu.”

“Anakku. Tutuplah matamu dan aku akan mengirim kamu pulang terlebih dahulu.”

Pada saat membuka mata, sang anak terkejut menyadari bahwa dirinya sudah berada di rumah. Lalu sang anak mendatangi rumah pejabat yang dimaksud dan mengatakan bahwa dia bisa memanggil wanita dalam lukisan tersebut. Mendengar kabar tersebut, sang pejabat sangat senang karena dia bisa memuaskan apa yang telah diidamkan selama ini.

Lalu tanpa membuang-buang waktu, anak tersebut dihantar masuk menuju ruangan tempat dia menggantung lukisan tersebut. Setelah sang anak melihat lukisan sang Ibu, dia berkata kepada lukisan tersebut, “Ibu, ayo kita pergi.”

Saat itu juga sang Ibu keluar dari lukisan. Ibu dan anak langsung ingin pulang ke rumah, namun sang pejabat menghalangi mereka. Sang pejabat ingin agar wanita cantik dihadapan dirinya menjadi selirnya, namun ditolak. Sang pejabat sangat marah dan menyerang Ibu dan anak tersebut. Sang anak melawan dengan gagah berani. Ketika mereka sedang bertempur, sepatu yang dikenakan sang anak terlepas secara tidak sengaja dan seketika itu juga berubah menjadi harimau yang besar.

Harimau itu lalu meloncat ke arah pejabat yang tidak tahu diri. Panggilan permintaan tolong dan raungan harimau yang marah bercampur jadi satu, yang dapat didengar oleh semua orang di kota Yangzhou.

Adalah sepatu harimau yang berhasil menyelamatkan Ibu dan anak tersebut, sehingga satu keluarga dapat bersatu kembali. Sejak saat itu, banyak orang membuat sepatu harimau untuk bayi mereka dengan harapan keluarga dan bayi mereka dilindungi.

Kematian

Kita sering melihat upacara kematian suku Tionghoa di tempat tempat/ ruang duka di rumah sakit. Kelihatannya begitu ramai oleh aneka perhiasan rumah rumahan dengan perlengkapannya dan upacara yang bising serta pakaian duka cita yang dipakai oleh anak, menantu, dan cucu cucunya.
Tetapi sebagian besar dari kita bertanya tanya dan belum tahu apa arti semua itu. 
Adat upacara kematian suku Tionghoa dilatarbelakangi oleh kepercayaan mereka. Mereka percaya bahwa dalam relasi seseorang dengan Tuhan ataupun kekuatan kekuatan lain yang mengatur kehidupan baik langsung maupun tidak langsung, berlaku hal – hal sebagai berikut :
  • Adanya reinkarnasi bagi semua manusia yang telah meninggal (cut sie)
  • Adanya hokum karma bagi semua perbuatan manusia seperti, tidak mendapat keturunan (ko kut)
  • Leluhur yang telah meniggal (arwah leluhur) pada waktu waktu tertentu dapat diminta datang untuk dijamu (ce’ng be’ng)
  • Menghormati para leluhur dan orang orang pandai (tuapekong)
  • Kutukan para leluhur, melalui kuburan dan batu nisan yang dirusak (bompay)
  • Apa yang dilakukan semasa hidup (di dunia) juga akan dialami di alam akhirat. Keidupan sesudah mati akan berlaku sama seperti kehidupan di dunia ini namun dalam kualitas yang lebih baik.

Budaya Khas

- Fengshui

Rasanya semua diantara kita pasti pernah mendengar atau bahkan membicarakan masalah Feng Shui. Pada era tahun 80-90 an Feng Shui mulai banyak diminati dan dipelajari lagi. Harus kita akui bahwa keberadaan Feng Shui ternyata cukup berpengaruh, khususnya dalam kehidupan orang Tionghoa dan terbawa sampai di jaman modern ini. Walaupun tidak sekuat di Asia, terbukti dunia barat pun kini mulai memasukkan aspek-aspek pertimbangan Feng Shui dalam rencana-rencana penataan ruangan yang dibuat. Bahkan sekarang banyak kalangan arsitek mulai mempelajari dan menggunakan Feng Shui dalam rencana dan pembuatan design.


Sekarang ini sudah banyak buku-buku mengenai Feng Shui beredar dipasaran yang hampir semua adalah Feng Shui rumah / bangunan. Akan sangat sulit bagi kita mencari buku tentang Feng Shui kuburan (kalau ada pun isinya sangat singkat dan tidak mendetail). Memang di jaman modern ini Feng Shui rumah / bangunan dirasa lebih dapat dipercaya dalam penerapannya daripada Feng Shui kuburan yang mungkin dirasa hanya merupakan suatu warisan kebudayaan yang lama kelamaan akan terkikis. Padahal ilmu Feng Shui itu meliputi Feng Shui kuburan dan Feng Shui rumah / bangunan.

Pentingnya tata letak ruang serta segala pernik-perniknya sudah menjadi hal yang dipelajari secara khusus oleh hampir semua bangsa, sejak awal mula adanya peradaban di dunia ini. Konstruksi dan penataan serta arsitektural bangunan-bangunan, pada saat itu merupakan perpaduan antara teknologi dan seni yang tinggi dimana dapat kita lihat dari peninggalan-peninggalan bangunan kuno yang masih ada sampai saat ini. Setiap kebudayaan yang berkembang pada saat itu seakan mempunyai jiwanya sendiri yang memunculkan karakter-karakter serta ciri-ciri khas yang merupakan refleksi dari nafas kehidupan bangsa tersebut sekaligus merupakan pondasi kebudayaan modernnya.

Salah satu kebudayaan tertua di dunia adalah kebudayaan Tionghoa, yang sangat kuat dipengaruhi oleh ajaran Tao dan Khonghucu. Perkembangan peradaban yang pesat dimulai ribuan tahun sebelum masehi, melahirkan terciptanya berbagai penemuan awal di segala bidang penghidupan. Pada kurun waktu antara tahun 2000 SM sampai tahun 1000 SM bangsa Tiongkok kuno telah mengenal dunia kedokteran, ilmu ketatanegaraan, ilmu ekonomi, serta teknologi lainnya, diantaranya adalah terciptanya methodology peramalan serta analisa tata letak ruang yang dikenal dengan nama Feng Shui. Diperkirakan ilmu Feng Shui ini adalah perkembangan dari konsep naskah I Ching yang disusun sebagai buku pegangan peramalan pada saat itu.

Kata Feng Shui sendiri berasal dari gabungan kata Feng yang berarti angin (arah) dan Shui yang berarti air (tempat). Jika dianalisa dari kata Feng Shui, maka kemungkinan besar ilmu ini sudah ada dan berkembang bahkan sebelum bangsa Tiongkok kuno mengenal kompas, dimana penentuan kondisi suatu tempat yang baik pada mulanya hanya melihat perpaduan unsur air dan angin saja.

Berkembang pesatnya Tao pada saat itu menumbuhkan berbagai bidang ilmu Tao yang salah satunya adalah Feng Shui. Feng Shui berkonsep pada penalaran yang sangat logis dan ilmiah. Konon ilmu peramalan ini sangat dipercaya oleh raja-raja Tiongkok, sehingga para ahlinya dijadikan penasehat kerajaan. Ahli peramalan pada saat itu adalah kedudukan yang penting karena dipercaya mempunyai kekuatan supranatural dan mengetahui rahasia alam. Untuk melindungi posisi ini maka ilmu peramalan ini tidak diajarkan secara luas, hanya diajarkan secara turun-temurun.

Karena Feng Shui sendiri adalah salah satu ilmu yang berguna, maka mungkin kita juga perlu sedikit tahu mengenai apakah Feng Shui itu. Seperti yang kita ketahui, Feng Shui dapat dibagi menjadi dua yaitu Feng Shui kuburan dan Feng Shui rumah / bangunan.

Logika dasar dari Feng Shui itu singkatnya sebagai berikut:

Alam ini adalah susunan gabungan unsur-unsur yang berada dalam suatu dimensi ruang dan waktu yang terus berubah, karena adanya energi yang saling bereaksi satu sama lain secara alami menuju keseimbangan. Manusia yang hidup di alam (bumi) ini pun mempunyai energi. Jika seseorang tinggal di suatu tempat yang mempunyai energi baik serta perpaduan unsur yang cocok maka orang itu akan mendapat pengaruh yang baik, begitu pula sebaliknya. Hal demikian berlaku juga untuk kuburan, tetapi yang mendapat pengaruh dari kuburan (orang yang dikubur) adalah anak-anaknya karena mempunyai hubungan dan unsur genetik yang sama.

- Memakan Kue Bulan

Pada jaman Dinasti Yuan, rakyat Han pada saat itu menentang pemerintahan Mongol dari Dinasti Yuan, dan para pemberontak, dipimpin oleh Shu Yuan Zhang, merencanakan untuk mengambil alih pemerintahan. Shu bingung memikirkan bagaimana cara menyatukan rakyat untuk memberontak pada hari yang sama tanpa diketahui oleh pemerintah Mongol.

Salah seorang penasehat terpercayanya akhirnya menemukan sebuah ide. Sebuah berita disebarkan bahwa akan ada bencana besar yang akan menimpa negeri Tiongkok dan hanya dengan memakan kue bulan yang dibagikan oleh para pemberontak dapat mencegah bencana tersebut. Kue bulan tersebut hanya dibagikan kepada rakyat Han, yang akan menemukan pesan “Revolusi pada tanggal lima belas bulan delapan” pada saat membukanya.

Karena pemberitahuan itu, rakyat bersama-sama melakukan aksi pada tanggal yang ditentukan untuk menggulingkan Dinasti Yuan. Dan sejak saat itu kue bulan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Perayaan Pertengahan Musim Gugur.

- Menyembunyikan Petasan

Legenda mengatakan bahwa pada jaman dahulu diatas rumpun pohon bambu hidup sekelompok makhluk aneh yang dinamakan Makhluk Gunung. Mereka pendek dan hanya memiliki satu kaki.

Pada suatu hari, di sebuah hutan bambu lewatlah satu orang desa yang membawa banyak buah-buahan dan sayur-sayuran. Secara tiba-tiba, muncul para Makhluk Gunung dan langsung berebut mengambil buah dan sayur yang ada. Orang desa itu tidak hanya diam, ia langsung berusaha menangkap para makhluk aneh itu, dan akhirnya berhasil menangkap satu.


Ia berencana untuk membawa makhluk aneh itu kepada hakim daerah. Saat melanjutkan perjalanan, orang desa itu berjumpa dengan sekelompok pemburu yang sedang memasak. Mereka memberitahu kepada orang desa itu bahwa yang ditangkapnya adalah Makhluk Gunung. Makhluk itu dapat membuat orang menjadi demam dan sakit. Makhluk itu akan selalu turun pada setiap tahun baru untuk mencari makan. Siapa pun yang berhubungan dengan makhluk itu akan jatuh sakit.

Karena orang desa itu mulai merasa kedinginan, para pemburu menambahkan potongan-potongan bambu ke perapian agar udara semakin hangat. Tiba-tiba muncul banyak Makhluk Gunung, lalu menyerang para pemburu dan orang desa itu.

Di tengah kekacauan itu, potongan bambu yang berada di perapian meletus. Letusan-letusan itu membuat para Makhluk Gunung terkejut dan lari ketakutan. Sejak saat itu rakyat membakar potongan bambu untuk menakuti Makhluk Gunung. Di kemudian hari, ini menjadi sebuah kebiasaan yang selalu dilakukan pada setiap Perayaan Tahun Baru Imlek.



Untuk Selengkapnya silahkan download: Final.docx - 139 KB atau G-Drive

Saturday, December 27, 2014

Tipe Tipe Cowo saat PDKT


1. Lelaki Berwawasan dan Pintar
Kebanyakan wanita itu suka dengan lelaki yang berwawasan luas. oleh karena itu banyak lelaki yang berusaha atau belajar untuk menjadi lelaki berwawasan pada saat PDKT. kenapa ?? 
Ini karena Lelaki yang berwawasan memiliki sifat yang lemah lembut dan terkesan sopan. dan berpenampilan yang rapi. serta berwibawa. kebanyakan para lelaki ingin sekali berwawasan luas Agar bisa menarik hati Sang pujaan. gimana Cewek gak mau jika kita BERWAWASAN LUAS. 
Akan tetapi gak mudah untuk seperti itu.. Butuh proses yang lama gan gak instan. itulah yang membuat lelaki memilih jalan lain karena rasa Malas lah yang akhirnya mengalahkan mereka untuk menjadi lelaki berwawasan karena lelaki berwawasan itu identik dengan membaca, berorganisasi dan Intelektual.

2. Lelaki Kaya

Di era yang serba mahal ini, banyak saat ini wanita yang menginginkan lelaki yang kaya demi masa depan yang cerah. tak hayal jika saat ini agan sering menemukan fenomena dijalanan dimana Cowok jelek bisa bonceng Bunga desa. inilah kenapa lelaki sangat termotivasi untuk dikenal orang kaya meskipun itu punya orang tua nya. karena ini bakalan menjadi nilai positif untuk dia.. inilah juga yang membuat beberapa lelaki ingin sekali Berlagak seperti Bill Gates ataupun Mark Zurckerberg meskipun terkadang dari hasil nyolong ataupun minjam demi sang pujaan hati...

3. Cowok Macho alias Sixpack
dari beberapa wanita, banyak juga yang ingin memiliki lelaki berbadan besar dan berpenampilan macho layaknya bintang film. ini agar mereka merasa lebih terlindungi dan menjadi kepuasan tersendiri untuk mereka.. sehingga banyak cowok yang berlomba untuk terlihat sixpack. sampe-sampe rela beli susu yang rasa Pisang.. agar membantu perkembangan SIXPACK pada tubuh mereka.. dan juga mengikuti ekstrakulikuler Fitness .. agar si doi suka gitu dan PDKT Berjalan lancar..

4. Lelaki Shaleh Dan Taat Agama
Seluruh wanita shaleha ingin lelakinya itu lelaki yang shaleh.. lelaki yang taat beribadah . lelaki yang pandai mengaji . karena ini akan mengantarkan mereka kepada hidup yang lebih tenang dan hikmah..Sehingga lelaki shaleh adalah salah satu kriteria utama cewek juga . dan banyak sekali diindonesia ini lelaki yang Shaleh.. akan tetapi ada juga ni yang sok berubah religius saat sedang PDKT..  contoh aja nih UPDATE SOSMED sebelum sholat jum'at.. seperti "Sholat Jum'at dulu biar tambah cakep".atau "OTW Masjid buat Sholat jum'at". gimana gak eneg liat status kayak gitu.. itu semua dilakukan agar wanitanya tau dia tu rajin sholat gitu.. 

5. Lelaki Gombal dan Modus
ini adalah lelaki yang berjiwa playboy.. biasanya dia akan melancarkan serangan-serangan mereka dengan pujian nya. dan dengan perhatiaan yang sangat luar biasa lebih. dan juga sering banget ngajak keluar bareng, makan bersama dan antar jemput kemana aja. agar lebih akrab gitu. kadang mereka juga sering SKSD gan. 

6. Lelaki Apa Adanya
 photo KungFuHustle2004BluRay720pmkv_snapshot_000957_20141227_164242_zpsa2e307c1.jpg
Lelaki tipe ini lelaki seribu satu. susah dicari jaman sekarang.. langka banget, terkadang kekonyolan dan sifat mereka yang terbuka akan mendatangkan kebahagian untuk wanitanya. karena gak ada yang mesti ditutupi.
Dijaman sekarang ini udah penuh kemunafikan, sehingga susah untuk menemukan lelaki yang seperti ini..dan tipe ini biasanya tipe lelaki sejati dan bertanggung jawab.. kekonyolan mereka kadang membawa kelucuan sehingga lelaki Ini adalah lelaki yang mudah bergaul, lelaki yang mudah akrab dan bersosialisasi. tipe ini biasanya orangnya pandai bercanda, banyak temennya dan orangnya sangat perduli. sifatnya Emang natural atau Sedari lahir udah sifatnya.. lelaki seperti ini biasanya akan lebih mudah mengerti dan mengenal wanitanya sehingga lelaki seperti ini gak perlu waktu lama buat menaklukan hati wanitanya.. yang seperti ini susah untuk di Ikutin atau belajar untuk seperti ini. karena ini Alamiah.

7. Lelaki Sok Ganteng
tipe ini adalah tipe lelaki yang super playboy. biasanya ini Lelaki tukang PHP. ini yang merusak moral lelaki.. dia hanya ingin mendekati wanita dengan maksud tertentu.. misalnya nih dia ngedeketin cewek, setelah ceweknya mau dia tinggalin deh.. ini banyak banget lelaki kayak gini..

8. Lelaki Humoris
jangan salah selain pintar, cewek juga suka sama cowok yg humoris, ga kaku, bisa mencairkan suasana.. 
Humoris/lucu ga harus kayak badut yaa..

Sumber